Blog  

Sektor Perkebunan Jadi Penopang Ekonomi Rohul, Petani Dorong Penguatan Harga, Produktivitas dan Kemitraan

Rokan Hulu-Riau-Cakrawalanews

Sektor perkebunan menjadi salah satu bagian penting dalam menggerakkan perekonomian dan kehidupan masyarakat di Kabupaten Rokan Hulu, Riau.
Kamis, 17/09/2026

Selain menjadi sumber penghasilan masyarakat, sektor perkebunan juga membuka lapangan pekerjaan serta memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan secara berkelanjutan.

Dalam pembahasan mengenai sektor perkebunan, sejumlah persoalan menjadi perhatian, mulai dari harga tandan buah segar (TBS), produktivitas kebun, kualitas bibit, kelembagaan petani, kemitraan dengan perusahaan, hingga persoalan status dan legalitas kawasan perkebunan.

Persoalan kawasan juga menjadi salah satu pembahasan penting. Status lahan perlu dilihat berdasarkan jenis kawasan, status penguasaan lahan, serta ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Dalam pemaparannya, narasumber menjelaskan bahwa pemerintah sebelumnya telah melakukan berbagai proses pendataan dan identifikasi terhadap kegiatan perkebunan yang berada di dalam kawasan hutan.

Pembahasan tersebut juga dikaitkan dengan keberadaan Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH) yang melibatkan berbagai unsur kementerian dan lembaga.

Setelah dilakukan inventarisasi dan verifikasi, data serta dokumen dari para pihak kemudian menjadi bagian dalam proses penataan dan pengelolaan kawasan sesuai mekanisme yang berlaku.

Sementara itu, dari sisi petani, persoalan harga TBS menjadi salah satu perhatian utama.

Wakil Bupati Rokan Hulu H. Syafaruddin Poti, S.H., M.M. menyampaikan bahwa pemerintah daerah memiliki peran penting dalam membantu menyelesaikan berbagai persoalan yang dihadapi petani, khususnya terkait harga.

Menurutnya, selama ini masih terdapat perbedaan antara harga yang diterima di tingkat pabrik dengan harga yang diterima petani.

Ia menyebutkan, perbedaan harga tersebut pada kondisi tertentu pernah mencapai sekitar Rp700 hingga Rp900 per kilogram.

Karena itu, penetapan harga TBS perlu mengacu pada mekanisme dan data resmi, termasuk harga CPO serta komponen lain yang menjadi dasar perhitungan harga TBS.

Petani Mandiri Perlu Diperkuat

Selain persoalan harga, perhatian juga diarahkan kepada petani mandiri yang memiliki potensi besar dalam sektor perkebunan.

Petani mandiri didorong untuk membentuk kelompok agar lebih mudah mendapatkan pembinaan, akses program pemerintah, pendampingan, serta peluang kemitraan dengan dunia usaha.

Pendataan juga dinilai penting untuk mengetahui identitas petani, asal lahan, status kepemilikan atau penguasaan lahan, hingga status hubungan kemitraan dengan perusahaan.

Dengan data yang valid, pemerintah dapat menentukan program yang lebih tepat bagi petani, baik petani plasma, petani mitra maupun petani mandiri.

Persoalan produktivitas juga menjadi perhatian. Masih terdapat kebun masyarakat yang belum menerapkan pola budidaya secara optimal, mulai dari penggunaan bibit, pemupukan, pemeliharaan tanaman hingga pengelolaan kebun.

Karena itu, edukasi dan pendampingan kepada petani dinilai sangat diperlukan.

Dorong Pengembangan Bibit dan Teknologi

Penggunaan bibit unggul dan bersertifikat juga menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan produktivitas perkebunan.

Narasumber dari kalangan pelaku usaha menyampaikan bahwa pembinaan kepada petani dapat dilakukan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.

Menurutnya, pola pembinaan yang dilakukan perusahaan kepada petani dapat membantu meningkatkan kemampuan petani dalam menerapkan teknik budidaya yang lebih baik.

Selain itu, pengembangan bibit dan varietas juga terus dilakukan. Namun, bibit yang masih dalam tahap pengembangan dan pengujian belum dapat langsung dipasarkan kepada masyarakat.

Untuk sementara, penggunaan bibit yang telah memiliki legalitas, sertifikasi, serta terbukti kualitasnya di lapangan dinilai menjadi pilihan yang perlu diperhatikan.

Perkebunan Terintegrasi dengan Peternakan

Dalam pembahasan tersebut juga muncul gagasan untuk mengembangkan sektor perkebunan secara terintegrasi dengan peternakan.

Hasil samping atau limbah perkebunan berpotensi dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak setelah melalui proses pengolahan dan penelitian yang tepat.

Kemudian, peternakan dapat menghasilkan kotoran ternak yang diolah menjadi pupuk organik untuk kembali dimanfaatkan di sektor perkebunan.

Konsep tersebut membentuk sebuah siklus ekonomi, di mana perkebunan dapat mendukung peternakan, sementara peternakan dapat memberikan manfaat kembali kepada perkebunan melalui pupuk organik.

Jika dikembangkan secara serius, pola tersebut juga berpotensi menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi masyarakat, mulai dari pengolahan bahan pakan, peternakan hingga pengolahan pupuk.

Kolaborasi antara pemerintah daerah, pemerintah desa, kelompok petani, dunia usaha dan perguruan tinggi dinilai menjadi bagian penting dalam mewujudkan konsep tersebut.

Dengan demikian, petani tidak hanya berperan sebagai penghasil bahan mentah, tetapi juga memiliki peluang mendapatkan nilai tambah dari hasil perkebunan.

Pengembangan sektor perkebunan ke depan diharapkan dapat dilakukan secara terpadu, mulai dari budidaya, peningkatan produktivitas, peremajaan tanaman, penguatan kelembagaan petani, kemitraan, hingga pengembangan usaha turunan.

Upaya tersebut diharapkan mampu memperkuat sektor perkebunan sekaligus memberikan manfaat ekonomi yang lebih luas bagi masyarakat Rokan Hulu.

Tim

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *